Berita Bola - FIFA makin mewaspadai bahaya pengaturan skor dalam
sepakbola. Mereka menangkap gejala adanya organisasi kriminal
terselubung yang berusaha "merusak" sekitar 50 liga di seluruh dunia.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Keamanan FIFA, Ralf Mutschke. Mutschke mengetahuinya setelah dia melakukan pertemuan rahasia dengan seorang pengatur skor.
Dari pengakuan sang pangatur skor yang sudah dihukum itu, organisasi kriminal saat ini mulai meninggalkan perdagangan obat-obatan terlarang. Salah satu lahan baru yang diincar adalah sepakbola.
"Saya bertemu dengan seorang pengatur pertandingan, seorang pengatur pertandingan yang sudah dihukum, di Zurich, di sebelah kebun binatang, dan dia mengatakan kepada saya bahwa organisasi kriminal mulai meninggalkan perdagangan obat dan mulai terlibat dalam pengaturan pertandingan karena risiko yang lebih rendah dan keuntungan yang besar," papar Mutschke seperti dilansir Reuters.
"Dia mengatakannya secara langsung di hadapan saya," tambah pria yang bekerja di Kepolisian Federal Jerman selama 33 tahun sebelum bergabung dengan FIFA ini.
"Saya akan mengatakan ada sekitar 50 liga yang berbeda di luar Eropa yang dibidik oleh organisasi kriminal dalam pasar judi," tuturnya.
Mutschke menjelaskan, sindikat pengaturan skor bisa masuk lewat mana saja. Mereka bisa mendekati pemain, klub, wasit, ofisial, federasi, dan konfederasi.
"Anda punya peluang 50 persen diterima dan hal yang mengecewakan saya adalah hal tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak takut kepada kami karena tak ada orang yang melaporkan pendekatan ini," ujarnya.
Yang cukup mengejutkan, para pengatur skor kadang-kadang juga punya akses ke lorong pemain dan mendekati target mereka.
"Para pengatur skor ada di stadion dan mengamati target mereka. Kadang-kadang mereka punya akses ke lorong pemain. Ini aneh," kata Mutschke.
Strategi lain yang dipakai oleh sindikat pengaturan skor adalah lewat pertandingan persahabatan internasional. Entah bagaimana caranya, mereka bisa mengganti wasit di saat-saat terakhir sebelum kick-off.
"Kalau Anda tidak punya foto pertandingan, sulit untuk tahu apakah dia benar-benar wasit yang seharusnya memimpin pertandingan," ungkap Mutschke.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Keamanan FIFA, Ralf Mutschke. Mutschke mengetahuinya setelah dia melakukan pertemuan rahasia dengan seorang pengatur skor.
Dari pengakuan sang pangatur skor yang sudah dihukum itu, organisasi kriminal saat ini mulai meninggalkan perdagangan obat-obatan terlarang. Salah satu lahan baru yang diincar adalah sepakbola.
"Saya bertemu dengan seorang pengatur pertandingan, seorang pengatur pertandingan yang sudah dihukum, di Zurich, di sebelah kebun binatang, dan dia mengatakan kepada saya bahwa organisasi kriminal mulai meninggalkan perdagangan obat dan mulai terlibat dalam pengaturan pertandingan karena risiko yang lebih rendah dan keuntungan yang besar," papar Mutschke seperti dilansir Reuters.
"Dia mengatakannya secara langsung di hadapan saya," tambah pria yang bekerja di Kepolisian Federal Jerman selama 33 tahun sebelum bergabung dengan FIFA ini.
"Saya akan mengatakan ada sekitar 50 liga yang berbeda di luar Eropa yang dibidik oleh organisasi kriminal dalam pasar judi," tuturnya.
Mutschke menjelaskan, sindikat pengaturan skor bisa masuk lewat mana saja. Mereka bisa mendekati pemain, klub, wasit, ofisial, federasi, dan konfederasi.
"Anda punya peluang 50 persen diterima dan hal yang mengecewakan saya adalah hal tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak takut kepada kami karena tak ada orang yang melaporkan pendekatan ini," ujarnya.
Yang cukup mengejutkan, para pengatur skor kadang-kadang juga punya akses ke lorong pemain dan mendekati target mereka.
"Para pengatur skor ada di stadion dan mengamati target mereka. Kadang-kadang mereka punya akses ke lorong pemain. Ini aneh," kata Mutschke.
Strategi lain yang dipakai oleh sindikat pengaturan skor adalah lewat pertandingan persahabatan internasional. Entah bagaimana caranya, mereka bisa mengganti wasit di saat-saat terakhir sebelum kick-off.
"Kalau Anda tidak punya foto pertandingan, sulit untuk tahu apakah dia benar-benar wasit yang seharusnya memimpin pertandingan," ungkap Mutschke.
